Hutan Gundul, Bencana Alam Mengancam Pemda Sumbar Diminta Turun Mengamankan

By BAKINews 15 Apr 2019, 14:33:43 WIB Sijunjung
Hutan Gundul, Bencana Alam Mengancam Pemda Sumbar Diminta Turun Mengamankan

Sijunjung, BKNews----Penebagan hutan di hulu batang Karimo dan Andopan nagari Lubuk Tarok, yang telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu, sampai kini masih terus berlangsung. Kendatipun, akibatnya bencana alam, seperti banjir Bandang dan galodo sering terjadi, terutama pada musim hujan. Namun, tidak satupun Instasi pemerintah yang turun tangan menertibkannya, sehingga, penebangan hutan itu, tampaknya suatu pembiaran oleh aparat dan Pemda Sijunjung.

Jika dilihat kepada letaknya, lokasinya berada dalam wilayah nagari Tanjung Balik Sumiso kecamatan Tigo Lurah kabupaten Solok, yang medannya sulit dijangkau dengan kendaraan roda dua, apalagi dengan kendaraan roda empat. Namun, jika pejabat terkait, peduli terhadap lingkungan dan sungguh-sungguh melaksanakan tugasnya, tentu tidak ada yang berat dan sulit, tutur beberapa orang pemerhati lingkungan di Sijunjung, kepada awak media beberapa hari lalu.

Pemda dan aparat kabupaten Solok pun, merasa sulit untuk menjangkau lokasi pembabatan hutan secara illegal itu, sehingga, para pembabat hutan yang berdatangan dari berbagai daerah sangat leluasa mempergunakan Sinshonya. Apalagi, jumlah mereka cukup banyak yang tergabung dalam beberapa kelompok-kelompok. Setiap kelompok sedikitnya mempergunakan sinsho 4 - 5 unit, yang dioperasikan setiap harinya.

Masyarakat nagari Lubuk Tarok, sejak terjadinya golodo dan banjir bandang batang Karimo 2 tahun lalu, sampai kini masih trauma, karena, puluhan hektar sawah produktif yang tertimbun pasir dan batu, sampai kini belum bisa digarap. Begitu pula, jembatan permanen batang Karimo yang roboh akibat dihantam banjir bandang, juga belum dibangun pemerintah.

Untuk menghentikan penebangan hutan yang merupakan paru-paru dunia itu, sudah seharusnya diturunkan tim gabungan dari provinsi Sumatera Barat, karena, pemda dan aparat penegak hukum yang ada di Sijunjung dan Solok, sampai saat ini masih main kucing-kucingan dengan pembalakan liar tersebut, ujar Darlisman bersama beberapa orang temannya, mengyampaikan keprihatinannya kepada awak media BAKI News, di Lubuk Tarok beberapa hari lalu.

PDAM Tirta Sanjung Buana juga ikut mengalami kerugian lebih dari Rp 1,5 milyar. Sebab, ada sepanjang 800 meter pipa induk PDAM hancur, di tempat pengambilan sumber air PDAM, tepatnya di hulu batang Karimo Jorong Silalak Kulik nagari Lubuk Tarok. Kendatipun petugas PDAM bersama staf dari dinas Sumber Daya Air provinsi Sumbar telah berhasil mengganti pipa yang hancur, sehingga, air PDAM Tirta Sanjung Buana, dalam beberapa bulan kemudian bisa dinikmati oleh masyarakat pelanggan kembali, walaupun dalam kondisi tidak layak untuk dijadikan air minum. Tetapi, hanya untuk sekedar mandi dan cuci, itu pun kondisinya terancam tercemar dan keruh.

Namun di akhir tahun 2018 dan diawal tahun 2019, bencana alam itu kembali terjadi, sehingga, air PDAM putus total lebih dari 3 bulan. Direktur PDAM Tirta Sanjung Buana Doni Nofridon SH, sewaktu dikonfirmasi awak media BAKI News, beberapa hari lalu, membenarkan, kerugian PDAM akibat banjir Bandang batang Karimo 2 tahun lalu cukup besar, lebih dari Rp 1,5 milyar, dan kerugian berikutnya juga hampir mencapai Rp 1 Milyar, yang meliputi pipa induk PDAM untuk wilayah Lubuk Tarok dan pipa induk untuk wilayah kecamatan Sijunjung.

Pihak PDAM, telah berusaha untuk membenahi semua pipa induk untuk wilayah kecamatan Lubuk Tarok dan Sijunjung Walaupun pipa induk dan bak sumber air PDAM yang rusak perlu diganti serta diperbaiki secara menyeluruh dengan dana yang cukup besar. Tetapi, pihak PDAM bersama dinas Sumber Daya Air provinsi terus menjalin kerja sama, karena, proyek itu masih dalam tanggung jawab pemerintah provinsi Sumbar. (Rusli/Tasmarinda)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment