Revitalisasi Kawasan Jam Gadang dan Perbaikan Desain Untuk Warga Kota

By BAKINews 08 Okt 2018, 13:49:10 WIB Opini
Revitalisasi Kawasan Jam Gadang dan Perbaikan Desain Untuk Warga Kota

Keterangan Gambar : Kedua desain ini menjadi kontroversi saat ini. Dan Pemerintah harus cepat tanggap tentang hal ini.


Oleh: Rika Cherish

Pelaksanaan proyek revitalisasi pelataran jam gadang bukittinggi saat ini menjadi viral di media sosial. Hal ini disebabkan karena desain pelataran jam gadang tersebut menggunakan garis-garis yang akhirnya membentuk satu mata yang besar kalau dilihat dari atas.

Masyarakat Indonesia yang baru saja mengalami shoch akibat dari musibah-musibah yang terjadi baik akibat gempa, tsunami dan keluarnya lumpur di sepanjang pantai Sulawesi dari bagian utara ke selatan, menimbulkan kepekaan terhadap desain mata satu. Yang mana di salah satu pantai di Sulawesi tersebut telah selesai satu proyek penataan pantai, dengan desain seperti mata satu. Desain mata satu ini merupakan sebuah simbol dari sebuah organisasi Internasional dan yang pasti bukan organisasi muslim. Secara tidak langsung, dibalik simbol ini terungkap sebuah kata - kata ‘selamat datang’ kepada para pengikut organisasi tersebut.

Kembali dengan topik disain pelataran Jam Gadang dengan tajuk proyek Revitalisasi dengan gambar desain berbentuk mata satu yang sering dihubungkan dengan simbol mata Dajjal. Siapakah Dajjal?

Diantara tanda-tanda hari kiamat adalah munculnya Dajjal, yaitu sosok manusia dari keturunan Adam yang akan menjadi fitnah bagi manusia. Firman Allah SWT menyebutkan:

Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia.” (QS. Al-Mu’min: 57).

Abu Al-‘Aliyah salah seorang tokoh tabi’in dalam memberikan interpretasinya terhadap penafsiran ayat tersebut menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kata manusia di dalam teks ayat adalah Dajjal. Jadi, bunyi teks penafsirannya menjadi: “Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan Dajjal.”

Sebuah Hadist dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw bersabda:

“Adapun penebar kesesatan (Dajjal), maka dia buta matanya sebelah, lebar jidatnya, luas lehernya dan agak bungkuk mirip Qathn Ibnu Abdil Uzza. (HR. Ahmad dalam Musnad-nya; berkata Ahmad Syakir: “isnadnya shahih” dan dihasankan oleh Ibnu Katsir).

Lalu siapakah yanga akan menjadi pengikut Dajjal?. Diriwayatkan dari Annas Bin Malik ra. Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:

“Akan mengikuti Dajjal orang-orang dari kalangan Yahudi Ashbahan 70 ribu orang yang dipimpin oleh thayalisah. (HR. Muslim)”.

Firman Allah SWT dan Hadist Nabi SAW ini adalah bukti bahwa keberadaan Dajjal yang disebut Al Masih Dajjal adalah benar adanya. Keyakinan inilah yang seharusnya umat Islam bisa menyadari dengan Iman. Dajjal akan keluar pada waktunya telah tiba dan Allah SWT yang Maha mengetahui waktu tersebut.

Namun pada saat ini sudah tidak ada lagi rahasia siapakah para pengikut Dajjal tersebut? Kita bisa membaca dengan sekali sentuh pada Smart Phone yang selalu kita bawa kemana-mana, siapakah pengikut Dajjal tersebut. Dalam film The Arrival part 5, dengan tema Architecture and anergy, bahwa kaum ini telah mempersiapkan dengan baik dan terstruktur untuk menyambut kedatangan Dajjal dengan mengumpulkan energi negatif yang terdapat di bumi, melalui beberapa desain yang diduga pasti akan mengumpulkan kekuatan bagi sesuatu. Desain tersebut seperti Obelisk, Piramida dan Kubah. Kekuatan negatif tersebut akan digunakan oleh para pengikut Dajjal melalui kegiatan yang bersifat mistis. Disamping itu, kegiatan para pengikut Dajjal ini juga memiliki simbol-simbol yang manandakan keberadaan kelompok mereka, yaitu diantaranya adalah simbol mata satu.

Logo mata satu ini menjadi simbol bagi pergerakan yahudi didunia. Logo mata satu sudah sering dilihat, sehingga sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari hari, misalnya pada bundaran HI Jakarta yang pada malam hari seperti sebuah mata yang hidup dan pada teralis Mesjid Raya Sumbar terdapat simbol bintang david. Secara tidak sadar kita telah terbiasa dengan bentuk - bentuk seperti ini dan dianggap hal ini sangatlah lumrah.

Kembali kepada topik pembicaraan kita tentang master plan revitalisasi jam gadang, yang notabene bahwa Jam Gadang terletak pada jantung kota Bukittinggi. Tidalah ada orang yang tidak mengenal kota ini. Setiap wisatawan yang datang ke Sumatera Barat pasti akan mampir ke Kota Bukittinggi, sehingga Bukittinggi telah ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Destinasi Nasional.

Dari segi Sejarah, bahwa Kota ini dahulunya termasuk kepada tigo tungku sajarangan seperti Luhak Batusangkar, Luhak Agam dan Luhak Payokumbuah. Arti dan keberadaan kota ini adalah sangat penting bagi orang Minangkabau dimanapun berada. Kota yang didisain oleh Belanda ini meninggalkan satu warisan yaitu Jam Gadang yang menjadi Landmark Kota Bukittinggi. Seiring dengan berjalannya waktu, Kawasan Jam Gadang yang sangat digandrungi oleh semua usia, menjadi mulai sempit. Wisatawan dalam dan luar negeri berdatangan sehingga Pemerintah sudah mulai kewalahan untuk melakukan penataan kawasan tersebut.

Mungkin hal inilah yang menjadi dasar dilakukannya proyek revitalisasi kawasan jam gadang pada tahun 2018 di kota tercinta ini.

Apabila kita membahas masalah REVITALISASI terdapat dua permasalahan yaitu, pertama Revitalisasi untuk mengembalikan kondisi kota yang sudah hampir mati dengan aktifitas baru. Dan kedua revitalisasi kawasan yang bersifat mengembalikan nilai historis suatu tempat atau kawasan dengan nilai - nilai kesejarahan masa lalu untuk masyarakat kota.

Dari kedua pengertian ini, kalau lebih tepat nya revitalisasi di kota Bukittinggi seharusnya adalah mengembalikan nilai kesejarahan kawasan jam gadang sebagai suatu tempat yang akan memberikan MEMORY COLLECTIVE kepada warga lokal.

Seharusnya warga lokal mendapat tempat yang cukup luas dalam melihat keberasaan sebuah jam gadang. Banyak hal yang seharusnya perlu diperhatikan dalam melakukan Program Revitalisasi Kawasan Jam Gadang ini.

  1. Analisa Historis atau kesejarahan, kalau memang akan mengembalikan jam gadang sesuai dengan nama proyek, seharusnya Pos polisi yang terdapat di pinggir jam gadang seharusnya di bangun kembali sehingga memory collective masyarakat akan bangkit kembali, karena kota adalah sebagai tempat kenangan warga kota.
  2. Analisa Cultural Mapping, bahwa orang Bukittinggi berasal dari suku Minang Kabau asli yang mana sangat menjunjung tinggi adat. Budaya minang kabau yang seharusnya menjadi ciri khas kota Bukittinggi seharusnya menjadi lokal identity.
  3. Analisa Kontekstual terhadap Lingkungan, dengan melakukan penutup tanah yang sangat luas tersebut, maka masalah yang paling utama adalah masalah pergeran air hujan. Kawasan dengan perkerasan yang sangat terbuka akan menjadi tempat inap air hujan ketika lebat dan akan mengakibatkan luapan atau air bah menuju dataran yang rendah. Karena jam gadang berada pada puncak bukit.
  4. Analisa kontekstual dengan rencana pembangunan pasar bertingkat yang akan menggunakan konsep ‘Green’ sangat tidak sesuai dengan konsep lapangan terbuka dengan konsep menutup seluruh permukaan tanah. Konsep green, lebih banyak memakai bahan material yang natural baik dari segi jenisnya, dan warnanya, sehingga kehadirannya secara fisik tidak akan menghasilkan warna yang mencolok dan permukaannya mampu menyerap air dengan baik.
  5. Analisa Sirkulasi Pergerakan kendaraan bermotor atau transportasi. Masalah baru akan timbul seandainya seluruh permukaan tanah ditutup dengan perkerasan. Bagaimana cara masyarakat untuk mengangkut barang dagangan ke toko mereka??? Mana jalur pergerakan mereka?
  6. Analisa pengembangan destinasi, manfaat proyek ini apakah hanya untuk para wisatawan, apakah ada manfaatnya untuk warga kota?
  7. Apakah disain sudah disosialisasikan kepada warga Kota? Dimana dan berapa lama?

Beberapa item diatas, menjadi hal yang penting, dan akan menghasilkan pertanyaan tambahan lainnya. Banyak sekali pertanyaan yang akan sangat berhubungan dengan aktifitas warga kota seandainya desain diatas akan tetap di realisasikan. Dan kami yakin revitalisasi kawasan ini bukannya menjadi suatu kebaikan bagi warga malah justru akan merugikan warga kota.

Sebagai solusi untuk menghindari kontroversi desain mata satu Dajjal, banyak disain-disain geometri, simetris harmonis yang berasalah dari kebudayaan Islam, seperti dibawah ini.

Pola pola ini adalah pola yang akan menghasilkan perasaan yang seimbang, harmoni, keindahan. Kenapa demikian, pola simetris dan seimbang  juga terdapat pada disain Rumah Gadang, Mesjid dan bangunan umat muslim lainnya yang mana akan mendatangkan nilai-nilai positif. Oleh karena itu sebaiknya disain bangunan-bangunan, Mesjid, Halaman yang luas dan mana tempat manusia akan menghabiskan waktu yang panjang sebaiknya di disain dengan bentuk bentuk yang jelas tegas dan mudah dipahami oleh orang banyak. Karena disain kita akan dinikmati oleh orang banyak dan orang yang sehat.*

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment