Seekor Siamang Peliharaan Dievakuasi

By Rudi Syafri 28 Nov 2017, 11:02:27 WIB Payakumbuh
Seekor Siamang Peliharaan Dievakuasi

Payakumbuh, BKNews--Seekor Siamang jantan berusia 8 tahun warna hitam bernama "Fatar" dievakuasi Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh bersama dengan Kalaweit Sumatera di salah satu kandang ternak masyarakat di Kelurahan Tiakar Payobasuang, Kecamatan Payakumbuh Timur, Kota Payakumbuh, Rabu (22/11).

Kepala Resort BKSDA Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh, Martias mengaku awalnya mendapat informasi dari masyarakat terhadap seekor binatang dilindungi jenis Siamang yang ditinggal pemiliknya. Sehingga kondisinya tidak terawat sejak ditinggal pemiliknya.

"Masyarakat memberi tahu, ada Siamang yang dipelihara dan ditinggal orang yang biasa memelihara Siamang itu, kemudian karena merasa iba dan Siamangtermasuk binatang yang dilindungi, maka diberitahu ke BKSDA.Setelah dilakukan pengecekan memang betul jenisnya Siamang, warna hitam. Untuk evakuasi kita kerjasama dengan Kalaweit," sebut Martias, disela-sela evakuasi bersama tim Kalaweit yang dipimpin langsung Manager Kalaweit Sumbar, Asferi Ardianto dibantu anggota Andre, David dan Robi.

Setelah dievakuasi dari ikatan rantainya, "Fatar" lansung dibawa Lembaga Konservasi Kalaweit Sumatera di Nagari Supayang, Kecamatan Payuang Sakali, Kabupaten Solok. Karena "Fatar" merupakan peliharaan masyarakat sehingga sudah jinak dan saat dievakuasi tim tidak merasa kesulitan.

Namun memang terlihat, saat dimasukkan dalam kandang evakuasi tim memberi makanan dan "Fatar" tampak sangat lahap memakan pisang dan makanan lainnya. "Kita akan cek kesehatannya dan kemudian di lihat prilakunya dan pasangannya akan kita carikan. Kita belum bisa memastikan kapan bisa dilepaskan kembali Kealam liar," sebut Asferi Ardianto.

Menurutnya, untuk melepaskan Siamang peliharaan masyarakat kealam liar perlu dilatih untuk hidup didalam liar. Bila tidak maka akan sulit untuk bisa beradaptasi tadi dengan hutan sehingga Siamang akan bermain dilantai hutan maka akan sangat rentan dengan penyakit dan predator alam liar.

"Hidupnya di atas pohon, jadi perlu dilatih sehingga bisa beradaptasi dengan alam liar. Jika hidup dilantai hutan, maka akan sangat rentan dengan penyakit.Biasanya peliharaan warga jinak, maka kita akan latih untuk liar. Kita nanti melepaskan dimana hutan yang tidak ada Siamang, karena kalau ada dia akan berkelahi. Jadi kita survei untuk memastikan didaerah mana tidak ada Salahnya," tambah Andre.

Menurutnya, Siamang itu masih berusia muda, mengingat seekor Siamang bisa hidup hingga usia 40-50 tahun. "Mudah-mudahan bisa lebih cepat kita lepas Kealam liar, karena usianya masih sangat muda yaitu 8 tahun. Ada memang usianya sampai 40-50 tahun," sebutnya.(doddy/kumis)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment